Website Resmi PCNU Kabupaten Semarang
Home » » Halal Bi Halal RMI PCNU Kabupaten Semarang

Halal Bi Halal RMI PCNU Kabupaten Semarang


Ungaran, Pcnukabsemarang.or.id - Sabtu 15/8 RMI (Rabithah Ma’ahid al Islamiyah) PCNU Kabupaten Semarang mengadakan acara Halal Bi Halal di Pondok Pesantren Al-Ittihad Poncol Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang. Acara bertema "Mengokohkan Ukhuwwah Memantapkan Ahlussunnah Wal Jama'ah di Bumi Nusantara" terasa sejuk penuh kekeluargaan. Selain para kyai sepuh dan pengasuh pondok pesantren di seluruh Kabupaten Semarang, kegiatan tersebut dihadiri pula Syuriah PWNU Jateng, KH. Ubaidillah Shodaqoh, Perwakilan RMI PWNU Jawa Tengah, Abu Khoir, M.Sc dan jajaran pengurus PCNU Kabupaten Semarang.

Gus Ubaid panggilan KH. Ubaidillah Shodaqoh dalam tausyiahnya menceritakan asal mula istilah halal bihal. Penggagas istilah "halal bi halal" ini adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Ceritanya begini: Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun. Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. 

Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi. Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain". "Itu gampang", kata Kiai Wahab. "Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah 'halal bi halal'", jelas Kiai Wahab. Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul 'Halal bi Halal' dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa. 

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal bi Halal sebagai kegaitan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.

"Halal Bi Halal adalah salah satu ciri khas Islam Nusantara" gitu aja kok repot ..., menirukan gaya Gus Dur dalam menanggapi pro kontra istilah Islam Nusantara yang dipopulerkan tema Muktamar 33 NU baru-baru ini di Jombang. tradisi halal bihalal mula-mula dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I (lahir th1725), yang terkenal dengan sebutan ‘Pangeran Sambernyawa’. Untuk menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah salat Idul Fitri diadakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana, cerita Gus Ubaid dengan gaya khasnya.

Sejak masa awal penyebaran Islam, pesantren adalah saksi dan pelaku utama bagi penyebaran dan pengajaran Islam di Indonesia, karena pesantren adalah sarana penting bagi kegiatan islamisasi di Indonesia. Perkembangan dan kemajuan masyarakat Islam Nusantara, khususnya Jawa, tidak mungkin terpisahkan dari peran pondok pesantren. Berpusat dari pesantren, perputaran roda ekonomi dan kebijakan politik Islam dikendalikan. 

Dari segi kepemimpinan nasional, “Tidak sedikit pemimpin-pemimpin negeri ini, baik pemimpin yang duduk dalam pemerintahan maupun pemimpin informal yang dilahirkan oleh pondok pesantren”, Kabupaten Semarang sangat strategis, dengan Luas, 981,95 km2 jumlah kecamatan 19 dan 235 kelurahan/desa. Daerah ini merupakan daerah pedesaan dan pegunungan yang subur yang seharusnya setiap desa minimal ada 1 pondok pesantren, agar warisan ulama-ulama besar NU pendahulu kita tetap terjaga' dan diteruskan oleh santri pondok pesantren, demikian disampaikan Rois Syuriah PWNU Jateng, KH. Ubaidillah Shodaqoh. (rochim/pcnu)
Silakan bagikan informasi dan artikel ini, semoga menjadi amal ibadah bagi Anda! Aamiin
Comments
0 Comments

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

PENGUMUMAN

PENGUMUMAN
Mau Pasang Iklan silakan hubungi
email : pcnukabsemarang@gmail.com
atau WA : 0856 - 4146 - 3589

FANPAGE RESMI

BERITA POPULER

 
Template Design by Creating Website Published by Partner Sejati